Sejak di Bangun Tahun 2019, Pamsimas di Pekon Menyancang Hanya mengalir 2 Hari

Krui, (ZL) – Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat, atau di kenal dengan sebutan Pamsimas, merupakan platform Pembangunan Air Minum dan Sanitasi Perdesaan yang dilaksanakan dengan pendekatan berbasis masyarakat.

Alih – alih mendapatkan sumber Air Bersih dari Program Pamsimas yang di bagun pada tahun 2019 silam, justru sebanyak 30 warga Pemangku Tanjung Agung I, Pekon Karya Penggawa, Kabupaten Pesisir Barat belum pernah mendapatkan manfaat dari program yang di luncurkan oleh kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jendral Cipta karya.

Pasalnya, menurut keterangan masyarakat sekitar yang enggan disebutkan Identitasnya saat dikonfirmasi oleh Awak Media ini pada senin (24/5/2021), Dia mengaku bahwa sejak berdirinya Pamsimas yang di bangun 2019 silam, mereka hanya menikmati air dari Bak Penampungan selama dua (2) hari saja.

” Waktu itu cuma mengalir dua hari saja, itupun saat uji coba bang, setelah itu sampai saat ini tidak pernah berfungsi lagi hingga tahun 2021, “Jelas Narasumber Kepada Sejumlah wartawan yang menanyakan program pamsimas.

Lanjut kata kepala keluarga itu, pada saat uji coba pengisian bak penampung air menggunakan mesin untuk memompa air agar naik dan masuk kedalam bak penampungan sehingga bak bisa terisi, karena posisi bak lebih tinggi daripada sumber air yang didapat, sehingga bila tidak menggunakan alat bantu, air tidak akan naik kedalam bak penampung.

” pas uji coba juga waktu itu pakai mesin karena kalo tidak pakai mesin airnya tidak naik karena bak nya lebih tinggi dari sumber air yang didapat,” Ucapnya lagi.

Lebih parahnya lagi, dari mulai perencanaan awal pembangunan Pamsimas ini sudah salah, sebab Warga ini mengaku Air yang dialirkan ke sambungan rumah warga bersumber dari air yang tidak higienis, sebab sumber air itu diambil dari Aliran Sungai yang berada di Pekon Penggawa V Ulu untuk mengalirkan air ke sawah warga bukan dari sejenis mata air.

” Kalau Buat Minum atau konsumsi air ini sangat tidak layak, karena kami tau aliran air itu juga biasa digunakan masyarakat untuk membuang hajat seperti toilet yang pembuangannya langsung terhubung ke saluran air, ” Ujarnya.

Walaupun tidak Layak Konsumsi, menurut penuturan warga sekitar tetap membutuhkan Pamsimas untuk keperluan mandi, dan mencuci, sebab Air Sumur milik warga setempat berwarna Kuning, jika di pakai untuk keperluan mandi menyebabkan gatal – gatal.

Pada saat awak media kroscek lokasi terlihat bak penampung air yang berukuran panjang 6 meter, Lebar 3 meter dan tinggi 1,7 meter sudah dipenuhi lumut lebat dan terlihat sangat kotor. Kemudian dilokasi berbeda tepatnya di desa sebelah Pekon Penggawa V Ulu tempat dimana sumber air diambil, lokasi pengambilan air sudah di tutupi tanah liat tebal sehingga paralon tidak terlihat, didalam perjalanan menempuh tempat sumber air, terlihat paralon yang digunakan sudah banyak terputus dan hilang, serta sumber air yang digunakan juga saat itu terlihat kotor dan keruh.

Ketika di konfirmasi Peratin Pekon Menyancang, Agus Liswanto mengatakan bahwa pekerjaan tersebut milik Dinas namun ia tidak ingat jelas dinas mana, ia juga mengaku pihak dinas sudah berkoordinasi dengannya terkait pekerjaan itu, setelah serah terima kepada masyarakat otomatis tidak ada sangkut pautnya lagi dengannya dan itupun diluar tanggung jawab ia sebagai Peratin Pekon Menyancang.

” Ia saya tau terkait pekerjaan itu, pihak dinas sudah berkoordinasi dengan saya tapi kan saya sifatnya mengetahui saja, setelah serah terima kepada masyarakat ya terserah mereka, kalo ada kerusakan itu paling gimana dari masyarakatnya saja, saya ga ada sangkut-pautnya, ” kata peratin terkesan lempar tanggungjawab.

Padahal untuk pembangunan Pamsimas itu dibantu dari sharing (Dana Desa) Pekon Menyancang sebesar Rp80.000.000, untuk pembelian sambungan Paralon Rumah tangga sebanyak 30 KK.

Saat ditanya tentang detail material yang dibeli dari anggaran Dana Desa itu, Peratin Pekon Menyancang ini mengaku tidak mengetahuinya karena dana yang ada langsung diserahkan kepada pihak Pamsimas lalu dibelikan material, baru dikirim ke Pekon.

” Iya ada anggarannya sebesar Rp 80.000.000, tapi saya kurang tau apa aja material yang dibeli karena anggarannya langsung dikirim ke pihak Pamsimas dan mereka yang kelola langsung, yang saya tau ada paralon satu mobil dianterin ke rumah”, ungkap Peratin.

Berbeda dengan pengakuan warga, Tim Pelaksana Kegiatan, Hifzon saat dikonfirmasi terkait lamanya Pamsimas ini berfungsi, Dia mengatakan air itu mengalir sekitar kurang lebih 2 minggu, lalu setelah itu tidak berfungsi lagi karena disebabkan banjir yang mengakibatkan tersumbatnya saluran air yang mengarah ke penampungan, kalau soal pakai mesin saat memompa air memang benar, cuman itu hanya awalnya saja karena hal itu untuk membuat udara yang masih ada dalam paralon agar keluar sehingga membuat airnya mengalir ke penampungan.

“Pamsimas itu setau saya berfungsi kurang lebih 2 minggu, lalu setelah itu memang benar tidak berfungsi lagi karena banjir yang menyebabkan salurannya tersumbat, kalo soal pakai mesin pas mompa airnya, iya benar karena hal itu untuk membuat udara didalam paralon agar keluar sehingga airnya bisa mengalir ke penampungan”, jelasnya.

Lanjut Hipzon, terkait tempat sumber air yang dipilih sebenarnya awalnya bukan disitu ada satu tempat lagi yang lebih efisien namun pada saat itu tempat pertama yang dipilih sumber airnya masih kering karena masih musim kemarau, di jadikan tempat sumber air untuk Pamsimas ini di desa sebelah yaitu Pekon Penggawa V Ulu karena disitu sumber yang paling dekat, karena anggarannya juga terbatas, aliran air yang dipilih juga sudah di tes kelayakannya oleh Dinas Kesehatan dan dinyatakan boleh dipakai untuk sumber air Pamsimas. Saat ditanya berapa anggarannya kepada ketua pelaksana, ia menyebutkan jika tidak salah anggaran yang diterima sebesar kurang lebih Rp213.000.000 untuk pembuatan Pamsimas tersebut.

” Sebenernya awal rencana bukan disitu tempatnya tapi berhubung saat itu sumber air yang direncakan akan dipakai masih kering karena sedang musim kemarau, di jadikanlah tempat yang sekarang yang bertempat di Pekon Penggawa V Ulu, itu juga sudah di tes kelayakannya oleh Dinas Kesehatan dan dinyatakan boleh dipakai, kalo masalah anggaran se inget saya itu kisaran Rp213.000.000 kalo tidak salah”, jelasnya. (Prastyo/Agus/Tim)

Komentar