Penulis : ANITA SATRIANI, S.Pd/Program pendidikan profesi guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Islam Riau
KEMAMPUAN MOTORIK ANAK MELALUI KEGIATAN TARI
KREASI
TK SEJAHTERA KAB. BONE
ZONALAMPUNG.CO – Senin (10/01/2022), Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan motorik anak melalui kegiatan tari
kreasi (kelas eksperimen) di TK SEJAHTERA WATAMPONE, kemampuan motorik anak
melalui kegiatan tari daerah (kelas kontrol) di TK SEJAHTERA WATAMPONE, dan
perbedaan kemampuan motorik anak melalui kegiatan tari kreasi dengan kegiatan tari
daerah di TK SEJAHTERA WATAMPONE, Metode penelitian ini menggunakan kuasi
eksperimen dengan desain penelitian nonequivalent control group desain. Subjek pada penelitian
ini adalah anak kelompok TK SEJAHTERA WATAMPONE sebanyak 29 orang.
Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa hasil penelitian menunjukkan kemampuan
motorik kasar anak kelas eksperimen dengan kegiatan tari kreasi baru diperoleh nilai rata-rata
pre test sebesar 55 dan post test sebesar 80. Sedangkan pada kelas kontrol dengan kegiatan tari
daerah nilai rata-rata pre test 53 dan post test sebesar 72. perbandingan kemampuan
motorik kasar anak dengan kegiatan tari kreasi baru dan kegiatan tari daerah memiliki
perbedaan yang signifikan, hal ini dibuktikan dari hasil uji hipotesis yang menunjukkan
nilai thitung = 3,416 > ttabel = 2,052 pada taraf signifikansi 5%.
Kata kunci: Anak Usia Dini, Motorik Kasar, Kegiatan Tari.
Pendahuluan
Pembelajaran bagi anak usia dini diselenggarakan dalam upaya membantu setiap anak
pada rentang usia 0-6 tahun untuk mencapai setiap tugas-tugas perkembangannya secara
optimal. Melalui pembelajaran formal, informal dan nonformal, anak-anak diharapkan
mampu mengembangkan setiap potensi yang dimilikinya melalui enam aspek, yaitu aspek
nilai agama dan moral, kognitif, bahasa, fisik dan motorik, sosial emosional dan seni
(Mursyid, 2015: 4).
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil proses pematangan
fungsi dalam perjalanan waktu tertentu, sedangkan perkembangan adalah perubahan secara
psikologis terhadap anak. Potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan kembang
secara cepat dan hebat, karena anak usia dini sering disebut dengan istilah golden age atau
masa emas (Suhada, 2016: 23).
Masa anak usia dini adalah masa dimana anak belum mengetahui potensi dan cara
untuk mengembangkan minat dan bakat yang terdapat dalam dirinya. Dimasa ini anak
masih mementingkan dirinya untuk kepentingan individu dalam menjalankan permainan
yang mereka lakukan secara bersamaan dalam bersenang-senang. Dengan demikian, orang
tua serta pendidik harus berupaya memperhatikan semua aspek pertumbuhan dan
perkembangan baik jasmani dan rohani, termasuk perkembangan fisik motoriknya, baik
fisik motorik kasar dan fisik motorik halus (Suhada, 2016: 115).
Menurut Decaprio (2013: 18) motorik kasar merupakan gerakan tubuh yang
menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar otot yang ada dalam tubuh maupun
seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan diri. Motorik memegang peranan
penting bagi anak dalam membantu melewati setiap tahap-tahap perkembangannya.
Sedangkan menurut Susanto (2011: 32) kemampuan motorik kasar anak usia dini adalah
suatu kemampuan yang membutuhkan koordinasi dengan seluruh bagian tubuh seperti otot
tangan, kaki, dan kepala.
Tujuan dari kemampuan motorik kasar pada anak yaitu mampu meningkatkan
keterampilan gerak. Kegiatan-kegiatan motorik yang dilakukan di sekolah bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan gerak pada anak. Anak yang pada awalnya belum mampu
mengombinasikan antara tangan dan kaki dapat meningkatkan kemampuan melalui
kegiatan motorik. Misalnya, anak yang pada awalnya belum mampu mengombinasikan
antara tangan dan kaki secara bersamaan, melalui kegiatan tari kreasi baru dapat distimulasi
sehingga anak dapat memiliki kemampuan dalam menggerakkan tangan dan kakinya secara
bersamaan (Saputra & Rudyanto, 2005: 115).
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan motorik anak TK SEJAHTERA
WATAMPONE yang masih dalam kategori kurang, karena memperoleh nilai rata-rata
59. Hal ini disebabkan karena beberapa anak kurang mampu melakukan gerakan
memutar, berjinjit, berdiri di atas satu kaki, mengayun, berjingkrak, dan melakukan
gerakan keseimbangan serta gerakan koordinasi. Kondisi tersebut mungkin disebabkan
karena metode pembelajaran yang digunakan masih bersifat sederhana. Dalam
melakukan pembelajaran, kegiatan tari untuk anak usia dini masih jarang digunakan, hanya
digunakan saat pergantian Tahun Ajaran dan guru memilih beberapa anak untuk
melakukan kegiatan tari.
Pada penelitian ini gerakan tari yang digunakan bukan tarian yang sudah ada
ataupun sudah jadi, dan tidak memerlukan waktu yang sangat singkat untuk mengasah
kemampuan motorik kasar yang dapat menstimulus anak dengan baik. Dalam hal ini
peneliti mempersiapkan tarian-tarian secara bertahap, kemudian menciptakan gerakan tari
dasar yang mudah untuk dilakukan. Penulis menciptakan tarian untuk menarik perhatian
anak yang berujung mengembangkan potensi dan imajinasi dalam berkreasi dengan tari
kreasi baru. Menurut Caturwati (2008: 165) tari kreasi baru merupakan karya tari yang
dihasilkan atas kreativitas individual atau kelompok sebagai karya yang ditata dengan
sentuhan atau cita rasa yang baru. Sedangkan menurut Rachmi (2008: 21) tari kreasi baru
adalah tarian yang telah mengalami pengembangan atau bertolak dari pola-pola tari yang
sudah ada. Menurut Merdekawaty (2010: 18) terdapat beberapa macam tari kreasi baru,
yaitu ranup lampuan, rampoe aceh, pemulian jame, tarek pukat, limong sikarang, dan
rampak dua.
Tujuan yang hendak akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
kemampuan motorik anak melalui kegiatan tari kreasi baru (kelas eksperimen) di TK
SEJAHTERA WATAMPONE kemampuan motorik anak melalui kegiatan tari daerah
(kelas control) dan perbedaan TK SEJAHTERA WATAMPONE kemampuan motorik kasar
anak melalui kegiatan tari kreasi baru dengan kegiatan tari daerah di TK SEJAHTERA
WATAMPONE
Metodologi
Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitiannya menggunakan metode
kuasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif, metode penelitian pada dasarnya
merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu
(Sugiyono, 2012: 2). Metode kuasi eksperimen pada penelitian ini menggunakan desain
penelitian nonequivalent control group design (Sugiyono, 2017: 79) pada desain penelitian
nonequivalent control group design, penelitian diawali dengan tahap observasi awal pada
kemampuan motorik kasar anak (pre test), kemudian diberikan satu kali tindakan (treatment)
berupa kegiatan tari kreasi, selanjutnya penelitian diakhiri dengan sebuah observasi akhir
(post test) untuk mengukur kemampuan motorik kasar anak dan kemudian dibandingkan
dengan keadaan sebelum diberi perlakuan (treatment).
Subjek penelitian ini adalah kelompok TK SEJAHTERA WATAMPONE sebanyak
29 orang siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar
observasi, unjuk kerja dan dokumentasi. Sumber data penelitian ini menggunakan sumber
data populasi dan sampel, sumber data populasi merupakan data yang bersumber dari
subjek penelitian yang dapat memberikan informasi terhadap penelitian yang akan
dilakukan.
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis komparasi, menurut
Subana (2000: 167) teknik analisis komparasional merupakan salah satu teknik analisis
statistik inferensial yang digunakan untuk menguji hipotesis sebagai upaya penarikan
kesimpulan dalam penelitian komparasional. Analisis tersebut digunakan untuk menguji ada
tidaknya perbedaan antar variabel yang sedang diteliti, sehingga diperoleh kesimpulan
apakah perbedaan itu cukup berarti (signifikan) atau hanya kebetulan. Hal yang perlu
diperhatikan berkenaan dengan statistik inferensial untuk menguji dua perlakuan yang
diperbandingkan adalah persyaratan normalitas data homogenitas varian data.
Uji normalitas diukur dari penilaian observasi dan dilakukan untuk menentukan
sekumpulan data berdistribusi normal atau tidak. Menginterpretasikan normalitas data
dengan membandingkan harga χ
2hitung dengan χ
2tabel dengan kriteria jika χ
2hitung lebih kecil
atau sama dengan χ
2tabel (χ
2hitung ≤ χ
2tabel), maka data diinterpretasikan normal. Dan Jika
χ
2hitung lebih besar χ
2tabel (χ
2hitung > χ
2tabel), maka data diinterpretasikan tidak normal.
Uji homogenitas diperlukan untuk mengetahui data yang dibandingkan
(dikomparasikan) sejenis (bersifat homogen) atau tidak. Menginterpretasikan homogenitas
data dengan cara membandingkan harga Fhitung dengan Ftabel dengan kriteria jika Fhitung lebih
kecil dari Ftabel (Fhitung ≤ atau sama dengan Ftabel), maka data memiliki variansi yang homogen.
Dan jika Fhitung lebih besar dari Ftabel (Fhitung > Ftabel), maka data memiliki variansi yang tidak
homogen.
Apabila diperoleh hasil kedua variabel berdistribusi normal dan bersifat homogen,
maka perhitungan perbedaan rata-rata pada penelitian ini menggunakan Uji t dengan
pengujian hipotesis jika thitung ≤ ttabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, dan jika: thitung > ttabel
maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Hasil dan Diskusi
Berdasarkan perhitungan kemampuan motorik kasar anak melalui kegiatan tari kreasi
baru (kelas eksperimen) di SD INPRES BAKUNG 1 SUDIANG, MAKASSAR saat pre
test memiliki nilai tertinggi 67, nilai terendah 44 dan nilai rata-rata 55. Sedangkan pada saat
post test memiliki nilai tertinggi 93, nilai terendah 69 dan nilai rata-rata 80 artinya bahwa
setelah menggunakan tari kreasi baru, nilai rata-rata kemampuan motorik kasar anak di
kelas eksperimen berada pada kategori sangat baik.
Kemampuan motorik kasar anak melalui kegiatan tari daerah (kelas control di SD
INPRES BAKUNG 1 SUDIANG, MAKASSAR saat pre test memiliki nilai tertinggi 65,
nilai terendah 42 dan nilai rata-rata 53. Sedangkan post test memiliki nilai tertinggi 85,
nilai terendah 62 dan nilai rata-rata 72 artinya bahwa setelah menggunakan tari daerah,
nilai rata-rata kemampuan motorik kasar anak di kelas kontrol berada pada kategori baik.
Hasil analisis pre test dan post test kegiatan tari kreasi baru (kelas eksperimen) dan kegiatan
tari daerah (kelas kontrol) terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan, yaitu uji normalitas
dan uji homogenitas yang diuraikan sebagai berikut:
Berdasarkan perhitungan uji normalitas hasil data pre test dari Kemampuan Motorik
Kasar Anak melalui Kegiatan Tari Kreasi Baru (Kelas Eksperimen) diperoleh nila mean ( )
= 55 dan standar deviasi (SD) = 6,91. Selain itu, diperoleh χ2
hitung 4,54 dan χ2
tabel = 7,815
dengan derajat kebebasan (db) = 5 pada taraf signifikansi 5%. Karena χ2
hitung 4,54 < dari
χ
2
tabel = 7,815, maka diinterpretasikan datanya berdistribusi normal. Sedangkan hasil data pre
test dari Kemampuan Motorik Kasar Anak melalui Kegiatan Tari Daerah (Kelas kontrol)
diperoleh nila mean ( ) = 53 dan standar deviasi (SD) = 7,12. Selain itu, diperoleh χ2
hitung
3,27 dan χ2
tabel = 7,815 dengan derajat kebebasan (db) = 5 pada taraf signifikansi 5%.
Karena χ2
hitung 3,27 < dari χ2
tabel = 7,815, maka diinterpretasikan datanya berdistribusi
normal.
Berdasarkan perhitungan uji normalitas hasil data post test dari Kemampuan Motorik
Kasar Anak melalui Kegiatan Tari Kreasi Baru (Kelas Eksperimen) diperoleh nila mean ( )
= 80 dan standar deviasi (SD) = 6,78. Selain itu, diperoleh χ2
hitung 1,42 dan χ2
tabel = 5,991
dengan derajat kebebasan (db) = 4 pada taraf signifikansi 5%. Karena χ2
hitung 1,42 < dari
χ
2
tabel = 5,991, maka diinterpretasikan datanya berdistribusi normal. Sedangkan hasil data
post test dari Kemampuan Motorik Kasar Anak melalui Kegiatan Tari Daerah (Kelas
kontrol) diperoleh nila mean ( ) = 72 dan standar deviasi (SD) = 6,74. Selain itu, diperoleh
χ
2
hitung 4,91 dan χ
2
tabel = 7,815 dengan derajat kebebasan (db) = 5 pada taraf signifikansi 5%.
Karena χ
2
hitung 4,91 < dari χ
2
tabel = 7,815, maka diinterpretasikan datanya berdistribusi
normal.
Berdasarkan perhitungan uji homogenitas hasil data pre test dari Kemampuan Motorik
Kasar Anak melalui Kegiatan Tari Kreasi Baru (Kelas Eksperimen) diperoleh nilai varian
(V) = 47,70 dan kegiatan tari daerah (kelas kontrol) diperoleh nilai varian (V) = 50,72.
Selain itu diperoleh Fhitung 0,94 dan Ftabel 2,55 dengan derajat kebebasan (db) = 5 pada taraf
signifikansi 5%. Karena Fhitung 0,94 < dari Ftabel 2,55 maka dapat diinterpretasikan bahwa
kedua data memiliki varian yang homogen.
Berdasarkan perhitungan uji homogenitas hasil data post test dari Kemampuan
Motorik Kasar Anak melalui Kegiatan Tari Kreasi Baru (Kelas Eksperimen) diperoleh nila
varian (V) = 45,95 dan kegiatan tari daerah (kelas kontrol) diperoleh nilai varian (V) =
45,45. Selain itu diperoleh Fhitung 1,01 dan Ftabel 2,55 dengan derajat kebebasan (db) = 5 pada
taraf signifikansi 5%. Karena Fhitung 1,01 < dari Ftabel 2,55 maka dapat diinterpretasikan
bahwa kedua data memiliki varian yang homogen.
Hasil uji normalitas dan uji homogenitas kegiatan tari kreasi baru (kelas eksperimen)
dan kegiatan tari daerah (kelas kontrol) pre test dan post test, didapatkan bahwa keduanya
berdistribusi normal dan bersifat homogen. Maka, dalam perhitungan perbedaan rata-
ratanya menggunakan uji t. Berdasarkan perhitungan uji t data hasil pre test diperoleh nilai
thitung sebesar 0,942 dan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 2,052, atau thitung = 0,942
< ttabel = 2,052. Dengan demikian ho diterima dan ha ditolak dan dapat diinterpretasikan
bahwa tidak terdapat berbedaan yang signifikan kemampuan motorik kasar anak antara
kelompok yang menggunakan tari kreasi baru dan kelompok yang menggunakan tari
daerah. Sedangkan data hasil post test diperoleh nilai thitung sebesar 3,416 dan nilai ttabel pada
taraf signifikansi 5% sebesar 2,052, atau thitung = 3,416 > ttabel = 2,052. Dengan demikian Ho
ditolak dan Ha diterima dan dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan kemampuan motorik kasar anak antara kelompok yang menggunakan tari kreasi
baru dan kelompok yang menggunakan tari daerah.
Pada data hasil pre test diketahui berdistribusi normal dari nilai maksimal 67, nilai
minimal sebesar 44 dan nilai rata-rata sebesar 55. Nilai tersebut berada pada skala 50–59.
Artinya realitas kemampuan motorik kasar anak di kelompok B RA An-Nihayah
Bojongranca Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat sebelum perlakuan kegiatan
tari kreasi baru (kelas eksperimen) berkualifikasi kurang. Sedangkan data hasil post test juga
berdistribusi normal dari nilai maksimal 93, nilai minimal sebesar 69 dan nilai rata-rata
sebesar 80. Nilai tersebut berada pada skala 80–100. Artinya realitas kemampuan motorik
kasar anak di kelompok B RA An-Nihayah Bojongranca Kecamatan Cipongkor Kabupaten
Bandung Barat sesudah perlakuan kegiatan tari kreasi baru (kelas eksperimen) berkualifikasi
sangat baik.
Kegiatan tari kreasi baru merupakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak
untuk dipelajari, karena tari kreasi baru adalah gerakan tari yang mempunyai koreografi
yang berbeda dari tarian yang sudah ada. Hal ini sejalan dengan pendapat Jazuli (2008: 76)
bahwa tari kreasi adalah jenis tari yang koreografinya masih bertolak dari tradisi tradisional
atau pengembangan dari pola-pola tari yang sudah ada, terbentuknya tari kreasi karena
dipengaruhi oleh gaya tari daerah atau negara lain maupun hasil kreativitas penciptanya.
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran di pendidikan pra sekolah, kegiatan tari kreasi
baru dilaksanakan dalam upaya memperkenalkan atau menjelaskan tentang hal baru dalam
menyampaikan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar anak.
Sebagaimana dikemukakan oleh Campbell (2006: 87) menari merupakan kegiatan untuk
melatih motorik anak khususnya motorik kasar anak guna mencapai keterampilan, sikap
dan apresiatif. Keterampilan didapatkan dari bagaimana anak dapat menggerakkan anggota
tubuhnya bak tangan, kepala, kaki, pundak, dan jari-jemari. Melalui tarian, anak
mendapatkan kesempatan untuk belajar kreatif mengeluarkan ide gagasannya
mempersatukan dan mendemonstrasikan pengetahuannya dengan cara koreografi.
Pada data hasil pre test diketahui berdistribusi normal dari nilai maksimal 65, nilai
minimal 42, dan nilai rata-rata sebesar 53. Nilai tersebut berada pada skala 50–59. Artinya
realitas kemampuan motorik kasar anak di kelompok pada kelas kontrol yang
menggunakan kegiatan tari daerah (kelas kontrol SD INPRES BAKUNG 1 SUDIANG,
MAKASSAR berkualifikasi kurang. Sedangkan data hasil post test juga berdistribusi
normal dari nilai maksimal 85, nilai minimal sebesar 62 dan nilai rata-rata sebesar 72.
Nilai tersebut berada pada skala 70–79. Artinya realitas kemampuan motorik kasar anak
di kelompok B RA An-Nihayah Bojongranca Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung
Barat sesudah perlakuan kegiatan tari daerah (kelas kontrol) berkualifikasi baik.
Kegiatan tari daerah dalam pembelajaran pada pendidikan pra sekolah membuat lebih
bermakna, sederhana dan menyenangkan bagi anak, juga merupakan pengalaman kesenian
bagi anak. Menurut Jazuli (2008: 139) pembelajaran tari daerah adalah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan sikap dan tingkah laku
sebagai hasil pengalaman berkesenian dan berinteraksi dengan budaya lingkungan untuk
mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan hasil uji hipotesis disimpulkan terdapat perbedaan antara kemampuan
motorik kasar anak yang menggunakan kegiatan tari kreasi baru (kelas eksperimen) dengan
kemampuan motorik kasar anak yang menggunakan kegiatan tari daerah (kelas kontrol) di
kelompok B RA An-Nihayah Bojongranca Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung
Barat. Hal ini terbukti melalui uji t yang menunjukkan harga thitung sebesar 3,416 dan ttabel
pada taraf signifikansi 5% sebesar 2,052. Maka thitung = 3,416 > ttabel = 2,052 dan dapat
diinterpretasikan hipotesis alternatif (Ha) diterima hipotesis nol (Ho) ditolak. Artinya,
terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan motorik kasar anak yang
menggunakan kegiatan tari kreasi baru dan kegiatan tari daerah.
Hal ini sejalan dengan pendapat Mulyani (2016: 60) bahwa tari dapat dikelompokkan
menjadi tiga jenis, yaitu jenis tari berdasarkan pola garapan, jenis tari berdasarkan
koreografi dan jenis tari berdasarkan tema. Tari daerah merupakan seni tari yang sudah ada
sejak dulu dan gerakan dalam tari daerah sudah paten, sedangkan tari kreasi baru ialah seni
tari yang sudah dikreasikan dan terdapat pembaruan dari tari daerah.
Penutup
Berdasarkan hasil analisis data tentang kemampuan motorik kasar anak melalui
kegiatan tari kreasi baru di kelompok dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik kasar
anak yang menggunakan kegiatan tari kreasi baru (kelas eksperimen) diperoleh nilai rata-
rata pre test sebesar 55 dengan kategori kurang, karena berada pada interval 50–59.
Sedangkan nilai rata-rata post test sebesar 80 dengan kategori sangat baik, karena berada pada
interval 80–100. Sedangkan kemampuan motorik kasar anak yang menggunakan kegiatan
tari daerah (kelas kontrol) diperoleh nilai rata-rata pre test sebesar 53 dengan kategori
kurang, karena berada pada interval 50–59. Sedangkan nilai rata-rata post test sebesar 72
dengan kategori baik, karena berada pada interval 70–79.
Hasil pengujian data statistik di kelas eksperimen dan di kelas kontrol, menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan yang signifikansi antara kemampuan motorik kasar anak yang
menggunakan kegiatan tari kreasi baru dengan kegiatan tari daerah. Berdasarkan hasil uji t
test yang menghasilkan nilai thitung sebesar 3,416 dan ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar
2,052. Maka thitung = 3,416 > ttabel = 2,052. Artinya hipotesis alternatif (Ha) diterima
hipotesis nol (Ho) ditolak, dengan kata lain terdapat perbedaan yang signifikan antara
kemampuan motorik kasar anak yang menggunakan kegiatan tari kreasi baru dengan
kegiatan tari daerah.
Daftar Pustaka
Campbell, L. D. (2006). Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences. Depok:
Intuisi Press.
Caturwati, E. (2008). Tari di Tatar Sunda.
Decaprio, R. (2013). Aplikasi Pembelajaran Motorik di Sekolah. Jogjakarta: Diva Press.
Jazuli, M. (2008). Pendidikan Seni Budaya Suplemen Pembelajaran Tari. Semarang: Universitas
Negeri Semarang.
Merdekawaty, S. R. (2010). Tari Kreasi Baru Nusantara. Bogor: Horizon.
Mulyani, N. (2016). Pendidikan Seni tari Anak Usia Dini. Yogyakarta: Gava Media.
Mursyid. (2015). Pengembangan Pembelajaran PAUD. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rachmi. (2008). Keterampilan Musik dan Tari. Jakarta: Universitas Terbuka.
Saputra, Y., & Rudyanto. (2005). Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Keterampilan
Anak TK. Jakarta: Depdikbud.
Subana. (2000). Statistik Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D . Bandung : Alfabeta.
Suhada, I. (2016). Psikologi Perkembangan. Bandung.
Susanto, A. (2011). Perkembangan Anak Usia Dini Pengantar Dalam berbagai Aspeknya. Jakarta:
Kencana Media Grup.
Syah, M. (2003). psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Biodata Penulis
ANITA SATRIANI Lahir di Bone pada tanggal 10 Januari 1987 dari pasangan Ibu
Nurhayati dan Bapak Muh Hatta balo, merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara.
Bertempat tinggal di Makassar perumahan VILAVA LAND TIRASA NO 8 RT 02/RW
09,Kecamatan Biring kanaya, Kelurahan Sudiang, Sulawesi selatan.








Komentar